Entri Populer

Selasa, 22 November 2011

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN KUANTITATIF

PENGEMBANGAN  INSTRUMEN
DALAM PENELITIAN KUANTITATIF
A.    Pengantar
Setelah menentukan disain penelitian, langkah selanjutnya dalam penelitian adalah membuat atau menetapkan instrumen penelitian. Dalam menentukan jenis instrumen yang akan digunakan seorang peneliti harus mempertimbangkan beberapa keadaan seperti jenis variable yang hendak diukur, jumlah sample penelitian, lokasi responden, ada tidaknya staf peneliti yang terlatih, dana dan waktu yang tersedia serta metode pengumpulan data yang dipilih.
Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengukur variabel dalam rangka mengumpulkan data. Berhubung ada beberapa macam variabel dan banyak metode untuk mengumpulkan data, maka jenis instrumen penelitiannya juga banyak.  Menurut jenis variabel yang akan diukur secara garis besar  instrument dapat dibedakan dua jenis  yaitu :
1.      Instrumen untuk mengukur variable  dengan  skala nominal dan ordinal (data kualitatif)
2.      Instrumen untuk mengukur skala interval dan rasio (data kuantitatif). 
Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dengan skala interval dan rasio biasanya merupakan alat standard dan sudah ditera. Contoh alat-alat dalam golongan ini adalah timbangan, pengukur panjang, thermometer, tensimeter, alat-alat laboratorium dan lain sebagainya.
Banyak diantara orang yang belum paham benar akan penelitian, mengacaukan dua pengertian yang sering salah dilakukan yakni menyebutkan “metode pengumpulan data adalah pedoman wawancara “. Jelas ini salah. Instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan sesuatu metode, yang kebetulan  istilah bagi instrumennya memang sama dengan nama  metodenya. Contoh, instrumen untuk metode tes adalah tes atau soal tes, instrumen untuk metode angket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner, tiga instrumen untuk metode observasi adalah check-list,  instumen untuk metode dokumentasi adalah pedoman dokumentasi atau dapat juga check-list.
Berbicara tentang jenis-jenis metode dan instrumen pengumpulan data sebenarnya tidak ubahnya  dengan berbicara masalah evaluasi. Mengevalusi tidak lain adalah memperoleh data tentang status sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran. Jadi mendasarkan pada pengertian ini, maka apabila kita menyebut jenis metode dan alat atau instrument pengumpulan data, maka sama saja dengan menyebut alat evaluasi, atau setidak-tidaknya hampir seluruhnya sama.

B.     Keampuhan Instrumen
Di dalam penelitian, data mempunyai kedudukan yang paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variable yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Oleh karena itu benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya data, tergantung dari tidaknya instrumen pengumpul data. Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.  Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.  Sedangkan Realibilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik.

C.    Langkah Penyusunan Instrumen
Untuk memahami konsep penyusunan dan pengembangan instrumen, maka di bawah ini akan disajikan proses atau langkah-langkah yang ditempuh dalam penyusunan instrumen dilengkapi dengan bagan proses penyusunan item-item instrumen suatu penelitian.  Menurut Muljono (2002:3-4) langkah-langkah penyusunan dan pengembangan instrumen adalah sebagai berikut : 
a)      Berdasarkan sintesis dari teori-teori yang dikaji tentang suatu konsep dari variabel yang hendak diukur, kemudian dirumuskan konstruk dari variabel tersebut. Konstruk pada dasarnya adalah bangun pengertian dari suatu konsep yang dirumuskan oleh peneliti.
b)      Berdasarkan konstruk tersebut dikembangkan dimensi dan indikator  variabel yang sesungguhnya telah tertuang secara eksplisit pada rumusan konstruk variabel pada langkah pertama.
c)      Membuat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi  yang memuat  dimensi, indikator, nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indikator.
d)     Menetapkan besaran atau parameter yang bergerak dalam suatu rentangan kontinum dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan, misalnya dari rendah ke tinggi, dari negatif ke  positif, dari otoriter ke demokratik, dari dependen ke independen, dan sebagainya.
e)      Menulis butir-butir instrumen yang dapat berbentuk pernyataan atau pertanyaan.Biasanya butir instrumen yang dibuat terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok butir positif dan kelompok butir negatif.    Butir positif adalah pernyataan  mengenai ciri atau keadaan, sikap atau persepsi yang positif atau mendekat ke kutub positif, sedang butir negatif adalah pernyataan mengenai ciri atau keadaan, persepsi atau sikap negatif atau mendekat ke kutub negatif.
f)       Butir-butir yang telah ditulis merupakan konsep instrumen yang harus melalui proses validasi, baik validasi teoretik maupun validasi empirik. 
g)      Tahap validasi pertama yang ditempuh adalah validasi teoretik, yaitu melalui  pemeriksaan pakar atau melalui panel yang pada dasarnya menelaah seberapa jauh dimensi merupakan jabaran yang tepat dari konstruk, seberapa jauh indikator merupakan jabaran yang tepat dari dimensi, dan seberapa jauh butir-butir instrumen yang dibuat secara tepat dapat mengukur indikator. 
h)      Revisi atau perbaikan berdasarkan saran dari pakar atau berdasarkan hasil panel.
i)        Setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoretik atau secara konseptual, dilakukanlah penggandaan instrumen secara terbatas untuk keperluan ujicoba.
j)         Ujicoba instrumen di lapangan  merupakan bagian dari proses validasi empirik. Melalui ujicoba tersebut,  instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel uji-coba yang mempunyai karakteristik sama atau ekivalen dengan karakteristik populasi penelitian. Jawaban atau respon dari sampel ujicoba merupakan data empiris yang akan dianalisis untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria dari instrumen yang dikembangkan.
k)      Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan kriteria baik kriteria internal maupun kriteria eksternal. Kriteria internal, adalah instrumen itu sendiri sebagai suatu kesatuan yang dijadikan kriteria sedangkan kriteria eksternal, adalah instrumen atau hasil ukur tertentu di luar instrumen yang dijadikan sebagai kriteria.
l)        Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh kesimpulan mengenai valid atau tidaknya sebuah butir  atau sebuah perangkat instrumen. Jika kita menggunakan kriteria internal, yaitu skor total instrumen sebagai kriteria maka keputusan pengujian adalah mengenai valid atau tidaknya butir instrumen dan proses pengujiannya biasa disebut analisis butir.  Dalam kasus lainnya, yakni jika kita menggunakan  kriteria eksternal, yaitu instrumen atau ukuran lain di luar instrumen yang dibuat yang dijadikan kriteria maka keputusan pengujiannya adalah mengenai valid atau tidaknya perangkat instrumen sebagai suatu kesatuan.
m)    Untuk kriteria internal atau validitas internal, berdasarkan hasil analisis butir maka butir-butir yang tidak valid dikeluarkan atau diperbaiki untuk diujicoba ulang, sedang butir-butir yang valid dirakit kembali menjadi sebuah perangkat instrumen untuk melihat kembali validitas kontennya berdasarkan kisi-kisi.  Jika secara konten butir-butir yang valid tersebut dianggap valid atau memenuhi syarat, maka perangkat instrumen yang terakhir ini menjadi instrumen final yang akan digunakan untuk mengukur variabel penelitian kita.
Untuk memahami alur berfikir berikut ini disajikan bagan “Alur Penyusunan dan Pengembangan Instrumen”
Gambar alur dan pengembangan instrument.
Variabel
 
Teori
 
Konstruk
 
 






Definisi Konseptual
 
Definisi Operasional
 
Penetapan Jenis Instrumen
 
Menyusun Butir Instrumen
 
 


















(Muljono, 2002:5)


D.    Jenis Istrumen dan Contoh
1.      Instrumen Tes
a). Pengertian
Menurut  (Arikunto: 2006) tes adalah seretetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kepompok.
Keunggulan metode ini adalah a) lebih akurat karena test berulang ulang direvisi, b) instrument penelitian yang objektif.
Sedangkan kelemahan metode ini adalah a) hanya mengukur satu aspek data, b) memerlukan jangka waktu yang panjang karena harus dilakukan secara berulang-ulang, c) hanya mengukur keadaan siswa pada saat test itu dilakukan.

b).Jenis-Jenis Tes
1) Tes Intelegensi
Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berfikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapi taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah (Mental ability Test; Intelegence Test; Academic Ability Test; Scholastic Aptitude Test). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuan intelektual atau kemampuan akademik.
2)  Tes Bakat
Tes kemampuan bakat, mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability; Aptitude Test ). Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsur-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu.
3) Tes Minat
Tes minat, mengukur kegiatan-kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membantu orang muda dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest).
4). Tes Kepribadian
Tes kepribadian, mengukur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi social dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes Proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorangmelalui reaksi- reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang itu.
Kelemahan Tes Proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya.
5. Tes Perkembangan Vokasional
Tes vokasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan (vocation); dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirri-ciri kepribadiannya serta tuntutan-tuntutan social-ekonomis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaan (career maturity).
6) Tes Hasil Belajar (Achievement Test)
Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Test) ini adalah taraf prestasi dalam belajar.
Dalam penulisan soal penulis butir soal harus memperhatikan ketentuan atau kaidah penulisan soal. Kaidah tersebut adalah
a)      Pilihan Ganda
Kaidah penulisan soal pilihan ganda adalah a) soal harus sesuai dengan indikator, b)setiap soal hanya ada satu jawaban, c) pengecoh harus berfungsi, d)  rumusan soal tegas dan jelas, e) pokok soal jangan memberi petunjuk kepada jawaban, f) pokok soal jangan mengandung pernyataan negative ganda, g) pilihan jawaban harus homogen dan logis, h) jawaban diurutkan dengan kaidah dari kecil ke besar; dari a ke z., i) rumusan jawaban seharusnya relative sama panjang, j) gunakan bahasa yang sesuai dengan EYD.
Perhatikan contoh soal berikut ini.
Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb). Dalam makalah ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni : kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir.

Masalah  utama yang dibahas dalam wacana di atas yang tepat adalah…
A.     Kanaikan air laut akibat pemanasan global.
B.     Gangguan terhadap permukiman penduduk.
C.     Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik
D.     Punahnya flora dan fauna tertentu.
E.      Gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan

b)       Esai/ bentuk isian
Kaidah penulisan soal esai yang baik adalah a) soal harus sesuai dengan indicator, b) materi yang diukur sesuai dengan tubtutan jawaban, c) pernyataan disusun denganbentuk pertanyaan langsung agar siswa lebih mudah merumuskan jawaban, d) hindari pernyataan yang menggunakan kata-kata yang langsung mengutip dari buku, e)jika jawaban yang dikehendaki adalah mentut satuan urutan, maka ungkapkanlah secara rinci dengan pernyataan, f)bahasa harus komunikatif sesuai dengan jenjang  pendidikan siswa, g) gunakan bahasa yang sesuai dengan EYD.
Perhatikan contoh soal berikut ini.
Perhatikan paragraf berikut!
Tanaman Kecipir sebenarnya sudah dikenal walaupun belum tersebar di seluruh Indonesia. Ini disebabkan kecipir mempunyai nama khusus di masing-masing daerah, misalnya di Jawa Barat diberi nama jaat, di Jawa Timur dan Jawa Tengah disebut kecipir atau cipir, di Bali Diberi nama Kaongkang, di Sumantra Barat namanya Kacang Belimbing, dan di Minahasa disebut dengan biraw.
a. Tentukan ide pokok paragraf!
b. Tentukan ide penjelas paragraf!


2.      Instrumen Nontes
a.       Wawancara
Ada beberapa faktor penentu wujud metode dan teknik yang dapat digunakan pada tahapan penyediaan data dalam wawancara, yaitu
1.      pandangan peneliti terhadap dirinya dalam berhadapan dengan objek ilmiahnya (bahasa);
2.      jenis objek ilmiah (bahasa) yang diteliti;
3.      watak objek dan tujuan penelitian (Sudaryanto dalam Mahsun, 2005: 85).
Faktor yang pertama lebih bersifat subjektif karena menyangkut penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa yang diteliti oleh peneliti itu sendiri. Ada dua macam pandangan yang muncul berhubungan dengan faktor yang pertama (Sudaryanto dalam Mahsun, 2005: 85), yaitu (1) peneliti dapat memandang dirinya hanya sebagai pengamat, dalam arti tidak perlu terlibat dalam peristiwa penggunaan bahasa yang diteliti; (2) peneliti dapat memandang dirinya di samping sebagai pengamat juga terlibat dalam penggunaan bahasa yang diteliti karena dia sendiri memang menguasai dan dapat menggunakan dalam bahasa yang diteliti.
Faktor kedua lebih bersifat objektif karena menyangkut penguasaan bahasa secara aktif oleh peneliti. Kadar penguasaan tersebut bukan menurut anggapan si peneliti, melainkan menurut kenyataan yang sesungguhnya, artinya bisa diteliti. Setidaknya ada tiga jenis bahasa yang diteliti, yaitu (1) bahasa yang diteliti cukup dekat, artinya bahasa tersebut sudah dikuasai aktif oleh peneliti. Hal ini bisa berkaitan dengan bahasa ibu atau bahasa kedua yang telah dikuasai oleh si peneliti. (2) bahasa yang diteliti cukup jauh, artinya bahasa tersebut belum dikuasai oleh peneliti, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dikuasai. Hal ini bisa berkaitan dengan bahasa asing yang belum dikuasai oleh peneliti. (3) bahasa yang diteliti sangat jauh, artinya bahasa tersebut tidak mungkin dikuasai oleh peneliti. Hal ini berkaitan dengan penelitian bahasa kuno yang dapat diambil dari naskah-naskah kuno.
Faktor ketiga berkaitan dengan ihwal perilaku struktural satuan lingual yang menjadi objek penelitian tersebut, misalnya untuk objek penelitian adverbia yang memiliki perilaku kurang wajar (letaknya bisa berpindah-pindah dalam deretan struktur).

b.      Metode dan Teknik Penyediaan Data
1)      Metode Simak
Metode ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap karena metode ini pada hakikatnya diwujudkan dengan penyadapan. Ada beberapa teknik lanjutan untuk metode ini, yaitu teknik simak libat cakap dan teknik simak bebas libat cakap. Dalam teknik simak libat cakap, peneliti terlibat langsung dalam dialog. Dengan demikian, dalam teknik ini, peneliti ikut berperan dalam pembentukan dan pemunculan calon data. Sedangkan, dalam teknik simak bebas libat cakap, peneliti hanya berlaku sebagai pengamat penggunaan bahasa dari informannya. Jadi, peneliti sama sekali tidak berperan untuk memunculkan data. Data diharapkan muncul dengan sendirinya.
2)      Metode Cakap
Metode ini mengharuskan penelitinya melakukan kontak bahasa dengan informannya. Metode cakap memunyai teknik dasar teknik pancing karena percakapan tersebut diharapkan sebagai pancingan-pancingan yang memunculkan gejala kebahasakan yang diharapkan oleh peneliti. Selanjutnya, teknik tersebut dijabarkan dalam dua teknik lanjutan, yaitu teknik cakap semuka dan teknik cakap tansemuka. Pada pelaksanaan teknik cakap semuka, peneliti terlibat langsung bercakap-cakap dengan informan dengan bersumber pada pancingan atau spontanitas. Sedangkan, teknik cakap tansemuka.
Selanjutnya, pelaksanaan teknik cakap tansemuka maksudnya adalah peneliti tidak langsung melakukan percakapan dengan informan di lokasi penelitian, tetapi melalui surat-menyurat atau peneliti mengirimkan instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan yang kemudian informan diminta untuk mengisi dan mengirimkannya kembali kepada peneliti. Atau juga bisa saja melalui telepon.
Kami mengambil contoh instrumen penelitian dari penelitian dialektologi (pemetaan bahasa) sebagai berikut,
Insrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa daftar tanyaan rancangan Bernd Nothoder yang telah dimodifikasi (Kisyani-Laksono dalam Verba, 2000: 130;  Mahsun, 1995). Daftar tanyaan ini berjumlah 843 item kata dengan rincian 200 glos kosakata Swadesh dan 643 glos Kata Budaya Dasar yang disusun berdasarkan medan makna. Hal itu dimaksudkan agar informan berada pada suasana yang memungkinkannya memberikan jawaban yang langsung dan spontan (Ayatrohaedi, 1983: 41). Pemodifikasian ini disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang diteliti. Daftar pertayaan tersebut terdiri atas:
a.       bagian tubuh berjumlah 69 pertanyaan
b.      kata ganti, sapaan, dan acuan berjumlah 15 pertanyaan
c.       sistem kekerabatan berjumlah 30 pertanyaan
d.      kehidupan desa dan masyarakat berjumlah 26 pertanyaan
e.       rumah dan bagian-bagiannya berjumlah 36 pertanyaan
f.       peralatan dan perlengkapan berjumlah 52 pertanyaan
g.      makanan dan minuman berjumlah 36 pertanyaan
h.      tanaman, halaman, dan pepohonan berjumlah 50 pertanyaan
i.        binatang berjumlah 77 pertanyaan
j.        musim, keadaan alam, benda alam dan arah berjumlah 80 pertanyaan
k.      penyakit dan pengobatan berjumlah 26 pertanyaan
l.        perangai, kata sifat, dan warna berjumlah 104 petanyaan
m.    mata pencaharian berjumlah 10 pertanyaan
n.      pakaian dan perhiasan berjumlah 24 pertanyaan
o.      permaianan berjumlah 5 pertanyaan
p.      gerak dan kerja berjumlah 135 pertanyaan
q.      kata bilangan berjumlah 29 petanyaan
r.        kata tugas berjumlah 39 pertanyaan.
Dari 843 glos yang ditanyakan tersebut, peneliti menghapus 6 glos karena dirasa berian yang muncul tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh peneliti. Glos yang dihapus ialah glos dengan nomor 87 KAKAK DARI SUAMI, 98 ANAK DARI KAKAKNYA AYAH/ IBU, 99 ANAK DARI ADIKNYA AYAH/ IBU, 724 TUNJUK, 820 LUSA, 822 SEDANG.
Berikut contoh daftar pertanyaan tersebut,
a.       Bagian Tubuh

1.     alis
2.     bulu mata
3.     cambang
4.     dahi
5.     bahu
6.     kumis
7.     ubun-ubun
8.     bibir
9.     dagu
10.   geraham
11.   gigi seri
12.   gusi
13.   langit-langit
14.   tenggorokan
15.   janggut
16.   jari
17.   jari tengah
18.   kelingking
19.   jari manis
20.   ibu jari
21.   kemaluan laki-laki
22.   kemaluan perempuan
23.   ketiak
24.   dada
25.   keringat
26.   lengan
27.   mata kaki
28.   ompong
29.   otak
30.   paha
31.   pantat
32.   paru-paru
33.   pergelangan tangan
34.   pinggang
35.   pipi
36.   pundak
37.   rusuk
38.   siku
39.   telunjuk
40.   tengkuk (kuduk)
41.   tubuh
42.   tumit
43.   tungkai
44.   betis
45.   urat


c.       Dokumentasi
Data dalam sebuah penelitian dapat pula berasal dari dokumentasi. Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis, seperti buku, majalah, notula, gambar, peraturan, dsb. Pemerolehan data dengan dokumentasi sering dilakukan jika peneliti meneliti teks, baik fiksi maupun nonfiksi.
Contohnya, saat peneliti meneliti teks sastra, pemerolehan data tersebut dapat diambil dengan cara dokumentasi. Tapi, dengan catatan, dokumen yang dipilih harus memiliki kredibilitas yang tinggi. Kalau itu berupa teks sastra, hal itu berarti teks tersebut harus memiliki unsur-unsur yang menarik untuk diteliti.

d.      Observasi
Pengumpulan data dengan metode observasi , dokumentasi, wawancara, dan kuesioner memerlukan instrumen yang berbeda-beda.  Alat ini biasanya adalah alat untuk mengukur data kualitatif dan data kualitatif yang dikuantitatifkan.  Alat ukur mutlak digunakan dalam penelitian, oleh karena itu dalam memilih alat ukur harus serius dan hati-hati karena akan mempengaruhi keberhasilan dalam penelitian.
Notoatmodjo mendefinikan observasi sebagai jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan.  Rangsangan itu menyentuh indra dan menimbulkan keinginan untuk melakukan pengamatan.
Dalam sebuah penelitian, yang dimaksud dengan pengamatan tidak hanya sekedar melihat, melainkan perlu keaktifan untuk meresapi, mencermati, mamaknai, dan akhirnya mencatat. Tindakan yang terakhir itulah yang perlu dan penting dilaksanakan. Karena daya ingat manusia terbatas untuk menyimapan semua informasi tentang apa yang diobservsasi dan hasil pengamatan. Catatan yang berisi hal-hal yang harus diobservasi dinamakan panduan observasi.  Sedangkan catatan  yang merekam hasil observasi dapat berupa gambar dan catatan panjang sebagai potret saat observasi dilakuakan atau  berupa sebuah check list yang berupa suatu daftar yang berisi subjek dan gejala-gejala yang harus diamati berikut penilaiannya dinamakan alat bantu observasi. Saat ini alat bantu tersebut dapat berupa tape recorder, kamera, dan alat perekam elektronik lainnya.
Jadi, dalam metode observasi alat yang digunakan bisa berupa pedoman observasi, catatan, check list, maupun alat perekam lainnya (kamera, tape recorder, cideo recorder, dan sebagainya.).
Dilihat dari pelaksanaannya observasi dibedakan menjadi dua jenis
1.      Observasi Nonsistemis
Pada observasi ini, pengamat tidak mempergunakan  panduan observasi dan alat perekam lainya. Seluruh hasil dari  observasi dicatat setelah semua observasi  selesai dilaksanakan.

2.    Observasi Sistemis
Dalam observasi ini pengamat mempergunakan  pedoman observasi dan atau alat perekam lainnya. Sudah tentu hasil yang diperoleh  jauh lebih baik dari cara yang pertama.
Pada observasi sistemis ada kalanya dipakai  suatu format rating scale sebagai alat bantu observasi.  Format ini mengandung topik yang diamati berikut skalanya. Skala ini harus diisi nilainya menurut persepsi pengamat. Agar pengamatan dapat dikuantitatifkanmaka orang menggunakan skala Likert sehingga  data kuantitatif  yang ada diubah menjadi data interval.
Contoh  seorang peneliti ingin mengetahui ketrampilan dalam suatu pelatihandengan menggunakan metode observasi. Salah satu aspek ketrampilan yang diteliti adalah melakukan presentasi rating scale yang digunakan mempunyai 5 tingkat dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang terbaik. Nilai 1 dinyatakan sebagai “Tidak memuaskan”, nilai 2 dinyatakan sebagai  “Kurang Memuaskan”, niali 3 dinyatakan sebagai “ cukup Memuaskan”, nilai 4 dinyatakan sebagai “memuaskan”, dan nilai 5 dinyatakan sebagai “ Sangat Memuaskan”. Pada check list ini peneliti tinggal membubuhkan tanda check pada kolom penilaian yang dianggap cocok.
Skala yang digunakandi sini adalah skala Linkert yang model pengukurannya  dianggap sama dengan skala interval.
Keterampilan
Pengamatan
1
2
3
4
5
Menyamaikan Pengantar





Menyampaiakan Tujuan Penelitian





Manyampaikan Pertanyaan kepada kelompok





Manyampaikan Pertanyaan kepada individu





Mempergunakan Nama Peserta






Observasi sistematis dapat pula diterapkan pada studi perilaku seseorang dalam pembelajaran, misalnya kita ingin tahu perilaku disiplin siswa, tangungjawab siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia.
Contoh lembar obeservasi studi perilaku seseorang dalam pembelajaran, misalnya kita ingin tahu perilaku disiplin siswa, tangungjawab siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia sebagai berikut.
Lembar Observasi
               Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia                          Hari, tanggal   :……………
               Materi               ; ………………..                            Observer          :…………….
No
Nama Siswa
Disiplin
Tanggung Jawab
Jumlah
Rata-rata
1
2
3
4
5
6
7
8




































               Keterangan:
1.      Tidak terlambat
2.      Mengumpulkan tugas tepat waktu
3.      Selalu memperhatikan dalam proses pembelajaran
4.      Selalu mengerjakan tugas sesuai aturan yang disepakati
5.      Berpakaian rapi.
6.      Mandiri tidak berusaha minta bantuan kepada siswa lain
7.      Mengumpulkan pekerjaan tepat waktu
8.      Berani mempresentasikan hasil pekerjaan
Rentang nilai
Sangat baik     : 5
Baik                 : 4
Cukup             : 3
Kurang                        : 2
Sangat kurang : 1
   Ada hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan observasi, yaitu sikap peneliti yang tidak memata-matai dan tidak menimbulkan kecurigaan responden. Sikap yang wajar  akan sangat membantu pengamat dalam mendapatkan hasil yang alami.  Karena bila  responden tahu sedang kita amati, makaakan timbul prilaku-rilaku yang tidak wajar atau tidak alami, yang bukan sebagai suatu kebiasaannya. Untuk itu diperlukan pendahuluan  agar bisa tercipta suasana rapport ( suasana yang merupakan hubungan erat dan bersahabat) anatara pengamat dan responden. Rapport dapat tercipta dengan cara sebagai berikut ;
a.       Ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan responden,
b.      menjadikan diri sendiri sebagai orang dalam, kawanan dari responden,
c.       sopan dan ramah menerangkan maksud kedatangannya dan menyatakan betapa pentingn, ya informasi yang bakal diperoleh.
d.      perlu ada tokoh pengantar yang dikenal baik oleh responden sebagai penghubung.
            Sesuai dengan etika penelitian, diharuskan terlehbih dahulu  minta persetujuan responden bahwa akan dilaksanakan penelitian terhadapnya. Karena hal ini sering terjadi ppeneliti menggunakan kamera atau perekam secara tersembunyi, dan kemudian hasilnya dipublikasikan, perbuatan ini sebetulnya tidak etis.

e.       Angket
Angket  sering disebut sebagai kuesioner. Angket merupakan teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung.  Instrumen atau alat pendgumpulan datanya juga disebut sebagai angket.
Jenis angket sama dengan wawancara. Bentuknya bias berupa pertanyaan terbuka, pertanyaan berstruktur dan pertanyaan tertutup.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan instrument angket atau kuesioner adalah : a) buatlah pengantar atau petunjuk pengisian sebelum butir pertanyaan, b) butir pertanyaan dirumuskan secara jelas, c) untuk setiap pertanyaan terbuka dan bestruktur disediakan kolom untuk menuliskan jawaban.
Berikut ini disajikan contoh angket.

Petunjuk Isian :
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan mengisi tempat kosong yang tersedia dengan memberi tanda check (√ ) pada pilihan yang mewakili jawaban saudara.
Nomor Responden                                           :…………….
Tanggal pengisian                                               :…………….

1.  Jenis kelamin

1)  Pria

2)  Wanita

2.  Usia

1)  15 – 24 tahun

2)  25 – 40 tahun

3)      40 tahun keatas


3.  Tingkat pendidikan terakhir

1)  Pendidikan Tinggi

2)  SMA / sederajat

3)  SMP / sederajat

4)  SD

5)  Tidak Sekolah

4.  Pekerjaan

1)  Tidak Bekerja

2)  Pensiunan

3)  Pelajar / Mahasiswa

4)  Pegawai Negeri

5)  Pegawai Swasta

6)  Lain - lain

5.  Status Perkawinan

1)  Kawin

2)  Belum Kawin

3)  Janda / Duda

6.  Agama / Kepercayaan

1)  Islam

2)  Kristen

3)  Hindu

4)  Budha

5)  Lain – lain




Petunjuk Isian :


Bacalah setiap pertanyaan dengan seksama, berikan pendapat saudara dengan memberi tanda check (√ ) pada tempat kosong yang tersedia yang mewakili jawaban saudara, kejujuran saudara dalam memberikan pendapat akan membantu dalam evaluasi.
B.  Penilaian Terhadap Dukungan Keluarga.



NO

Pertanyaan Yang Berkaitan Dengan
Dukungan Keluarga

Ya

Tidak

1
DUKUNGAN EMOSIONAL DAN
PENGHARGAAN


1
Keluarga selalu mendampingi saya dalam perawatan.


2
Keluarga selalu memberi pujian dan perhatian kepada
saya.



3
Keluarga     tetap    mencintai     dan    memperhatikan
keadaan selama saya sakit.


4

Keluarga dan tetangga memaklumi bahwa sakit yang
saya alami adalah suatu musibah.



E.     Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.       Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengukur variabel dalam rangka mengumpulkan data
b.      Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel.
c.       Langkah membuat instrument ada tiga belas.
d.      Jenis instrument  antara lain intrumen tes dan nontes.

REFERENSI
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta : Rineke Cipta
Muljono, Pudji. 2002. Penyusunan dan Pengembangan Instrumen Penelitian” Makalah disampaikan pada Lokakarya Peningkatan Suasana Akademik  Jurusan Ekonomi FIS-UNJ tanggal 5 sampai dengan 9 Agustus 2002.
Sandjaja dan Albert Heriayanto. 2006. Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustakaraya
Safari. 2004. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas
Sevilla. Consuelo.G. 1993. Pengantar Metode Penelitian. alih bahasa Alimuddin Tuwu. Jakarta: UI Pres.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.






















PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN KUANTITATIF



Disajikan dalam diskusi kelas Mata Kuliah Penelitian Kuantitatif dan Statistik,
Program Pascasarjana (S2) Pendidikan Bahasa dan Sastra
Universitas Negeri Surabaya.



MAKALAH


Universitas Negeri Surabaya - Copy.jpg 




Angga P 11783066
Arista Ambarwati 117835009
Danar Takdir S 117835430
Novita Rahayu 117835428
Rasmian117835065
Angkatan 2011/2012



UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
PROGRAM PASCASARJANA (S2)
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
2011



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar